What we stand for

G25 is committed to pursue a just, democratic, peaceful, tolerant, harmonious, moderate and progressive multi-racial, multi cultural, multi religious Malaysia through Islamic principles of Wassatiyah (moderation) and Maqasid Syariah (well-being of the people) that affirms justice, compassion, mercy, equity.

Malaysia is to be led by rule of law, good governance, respect for human rights and upholding the institution of the country.

We aim to ensure, raise awareness, promote that Syariah laws and civil laws should work in harmony and that the Syariah laws are used within its legal jurisdiction and limits as provided for by the federal and state division of powers.

There should be rational dialogues to inform people on how Islam is used for public law and policy that effects the multi ethnic and multi religious Malaysia and within the confines of the Federal Constitution, the supreme law of the nation.

We work in a consultative committee of experts to advise the government and facilitate amendments to the state Syariah laws, to align to the Federal Constitution and the spirit of Rukun Negara.

It is imperative to achieve a politically stable, economically progressive Malaysia and to be able to enjoy the harmony, tolerance, understanding and cooperation in this multi diverse country.

Prakata Wacana Pemikiran Reformis III: Berwacana untuk Hujahan dan Mendengar: Melawan Pendangkalan dan Perilaku Sangar

 

Islam [seyogia] dipahami sebagai ajaran yang terkait dengan konteks zaman dan tempat. Perubahan waktu dan perbedaan wilayah menjadi kunci untuk kerja-kerja penafsiran dan ijtihad. Dengan demikian, Islam akan mampu terus memperbarui diri dan dinamis dalam merespon perubahan zaman. Selain itu, Islam dengan lentur mampu berdialog dengan kondisi masyarakat yang berbeda-beda dari sudut dunia yang satu ke sudut yang lain. Dengan kemampuan beradaptasi kritis inilah sesungguhnya Islam bisa benar-benar shalih li kulli zaman wa makan (relevan dengan semua zaman dan tempat mana pun). [Moeslim Abdurrahman]

 

Wacana Islam Reformis III adalah suatu kehadiran yang wajar dan tepat waktunya. Kehadiran itu adalah penolakan terhadap peminggiran dan penafian. Sebuah wacana yang hadir bisa sahaja bersifat edukatif dan transformatif, ataupun secara berlantang dan menggempur. Masing-masing strategi ini sudah terpakai dalam sejarah, namun dimensi yang edukatif mempunyai hayat bertahan yang lebih lama. Inilah rasanya yang telah, dan sedang diikhtiarkan, oleh teman-teman di Islamic Renaissance Front (IRF) dan siri kumpulan tulisan ini adalah bukti bahawa mereka ingin menuju ke arah wacana yang persistent dan consistent.

 

Dari permulaan yang sederhana pada dua jilid terawal, jilid yang ketiga ini lebih memperihatkan kepelbagaian tema dan malahan lapisan hujah, yang ditulis bukan sahaja oleh ilmuan seperti Dr Farouk Musa dan Dr Ahmad Nabil Amir tetapi juga oleh para aktivis muda seperti Hazman Baharom, Mohd Syazreen Abdullah, Ahmad Muziru Idham dan Shuhaib Ar Rumy Ismail. Medan penulisan para aktivis yang berselera untuk berwacana adalah petanda baik dalam suatu pergerakan wacana. Moga-moga potensi besar yang ada pada muda-muda ini bisa terangkul untuk memberi kepimpinan intelektual di masa hadapan.

 

Menulis dalam bahasa Melayu untuk wacana Islam reformis dewasa ini adalah suatu ikhtiar yang jarang mahu dilakukan, mentelah lagi di sfera publik, khasnya dalam suasana kencangnya Islam sangar yang galak berdentum di kalangan ahli-ahli politik, birokrat dan kepimpinan dalam NGO Muslim yang semakin bercambah hari ini. Islam sangar ini rata-rata bertolak dari sikap berkuasaan, sehingga tak sipu-sipu mengklaim bahawa monopoli dalam tafsiran dan amalan keagamaan mereka itu adalah mutlak dan harus diikut, sedangkan versi yang lain adalah salah dan tersimpang.

 

Selain sikap sangar yang bermarahan, tegar dan agresif itu sering berdenting, kita juga akan diketemukan dengan wacana Islam yang berkumandang seperti keselorohan dan kebadutan dalam acara-acara yang dipanggil ceramah, forum dan syarahan agama, sehingga gelak dan hilainya tidak beda dari lumba lawak jenaka. Inilah situasi yang sedang kita berdepan sekarang. Tambah lagi, seperti dekad-dekad yang sudah, wacana Islam semasa yang berbahasa Melayu dari aliran reformis sering pula dicap perojatif sebagai “liberal” sehingga menggerunkan orang ramai, walaupun tidak pernahpun membaca sebaris manapun dari karya-karya reformis. Inilah antara rencaman pendangkalan yang semakin membiak, dan harus ditawarkan pula dengan wacana kritis sebagai alternatif.

 

Boleh dikatakan berwacana untuk menyampaikan hujahan agak lebih mudah daripada berwacana untuk mendengar. Yang pertama itu bisa menjadi sekadar monolog, sedangkan yang kedua itu adalah dialog. Kerja mendengar adalah kerja intelektual dan moral etika yang seharusnya mendasar kepada kepedulian kita. Kemampuan berhujah dan mendengar adalah intipati dialog, kerana tanpa dua segi ini suatu wacana itu tidak akan bisa ampuh. Berhujah dengan ilmu dan merespons dengan spontan akan berhasil sekiranya kemampuan untuk mendengar sama terbangun.

 

Sesungguhnya mendengar adalah keprihatinan ke atas keluh-kesah, rintihan dan keresahan yang disebut dan dilafaz di persekitaran kita. Kamahuan dan kemampuan untuk berhujah lewat wacana tidak akan sempurna kalau sisi untuk mendengar tidak diperkuat dan dipertajamkan. Pengupasan dan penungkapan sesuatu idea itu tidak mungkin datang hanya dari pembacaan semata-mata. Ia juga bisa ditarik dari pengucapan manusia lain, baik dari bentuk kekata, ( malah mimik muka) dari yang lain. Jelasnya duduk menulis dan duduk mendengar, yang akan menjadi strategi berwacana reformis, harus terangkum dalam perancangan yang tersepadu.

 

Budaya berdialog baik dalam buku dan lisan harus mendapat perhatian besar dalam rangkuman reformisme yang edukatif. Suara dan sergahan sangar itu harus dikendurkan dengan hujahan sehingga dapat ditawarkan alternatif, dengan memperlihatkan wajah Islam yang lebih lunak, mesra dan akrab.

 

Yang galak berteriak dengan cemuh itu dan ini harus dibalas dengan kesabaran mendengar dengan santun sambil menjawabnya dengan kesabaran tanpa perlu mencontohi kegalakan mereka yang angkuh.

Tetapi nyata inilah yang paling sukar untuk diamalkan. Kita maklum dalam sejarah gerakan reformisme, para pendukungnya harus tabah menerima tentangan dari kekuasaan mapan, selain kesuraman respons yang diberikan dari khalayak Muslim. Kerja reformisme terus diragui, malah dipandang sepi, dengan kehadirannya di sfera publik semakin sukar. Kita maklum bahwa reformisme agama akan terbantut selagi agama tidah bergerak dalam ranah yang bebas, yakni tidak tercangkuk dengan pemerintahan atau kuasa dominan, yang merasakan agama menjadi milik negara, dengan interpretasi dari golongan mereka sebagai mutlak, lantas memaksakan fahamannya ke atas yang lain.

 

Namun ini bukanlah takdiran sejarah yang beku selagi ada segerombolan manusia yang yakin dan berani hadir untuk membawa pelita reformisme. Reformisme dan pencerahan hanya akan tergerak secara substantif kalau ianya dipimpin oleh kelompok yang berfikir secara berautonomi, selain idea-idea itu dapat tumbuh di kalangan khalayak ramai. Ertinya pemberdayaan di tingkat lapisan orang awam harus segera berlangsungan, sesama dengan pencerahan di tingkat atas. Imaginasi dan iltizam untuk reformisme yang dipegang oleh teman-teman di IRF adalah ikhtiar yang bisa membawa kita ke jalan itu.

 

Sebaliknya ketidakhadiran karya-karya reformis dalam peredaran buku tempatan - malah juga dalam koleksi perpustakaan - menandakan kekerdilan wacana progresif yang masih belum ke depan menawarkan wacana alternatif secara terbuka dan agresif. Memangpun ‘dakwah’ reformisme agak tersipu-sipu seakan-akan tidak percaya diri. Namun dengan kehadiran jilid ketiga ini, diharap usaha seperti ini berterusan di masa mendatang. Potensi besar dari penerbitan seperti ini dapat terbangun apabila idea bergerak antara pembaca dan pergerakan, baik dari golongan kampus, sehinggalah di kalangan ahli usrah dan jemaah yang lebih besar. Inilah pentingnya penerbitan sedemikian.

 

Semoga buku ketiga ini disambut dengan bacaan, hujahan dan lanjutan pewacanaannya. Yang penting konsep kritis, jalur pemikiran kritis dan cara pandang yang diagnostik sudah dapat diperkenalkan kepada pembaca dan kemudian masuk ke dalam ungkapan dan pola pemikiran mereka. Semoga pemikiran asas yang berpandukan akal budi dan iman, serta bersikap adil, demokratik, dan saksama dianugerahkan dari Yang Maha Kuasa dalam cahaya ilmu dan ihsan. Tersimpul harapan seperti ini dalam pantun berikut:

 

Kapal berlayar pimpinan nakhoda
Lautan biru tiada sempadan
Menuntut ilmu biarlah berpada
Agar manfaat jadi berpadan

Lautan biru tiada sempadan
Tempat berhimpun paus dan hiyu
Agama menuntut ditegakkan keadilan
Akal teranugerah menyanggah yang palsu

 

Dr Azhar Ibrahim adalah Pensyarah di Jabatan Pengajian Melayu, Universiti Nasional Singapura.

 

Islamic Renaissance Front

 

Please reload

Follow Us
  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
Recent Posts

Thursday, March 26, 2020

Friday, March 13, 2020

Friday, March 13, 2020

Please reload

Search By Tags
This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now